SBY: Ini Bukan Cerita Fiksi, Perang Dunia Ketiga Diambang Pintu
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekhawatirannya terhadap meningkatnya potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga.

Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (Foto : Istimewa)
SEMERUPOS.COM - Melihat dinamika geo politik global yang terus memanas, SBY menilai dunia saat ini berada pada fase yang sangat berbahaya, dengan peluang pencegahan konflik besar yang semakin menyempit dari hari ke hari.
Melalui akun X pribadinya,dikutip NewsTujuh Rabu (21/01), SBY menegaskan bahwa perang dunia ketiga bukan sekadar kemungkinan abstrak, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi jika dunia gagal bertindak cepat dan kolektif.
“Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” tulis SBY.
SBY mengungkapkan bahwa kondisi geopolitik dunia saat ini memiliki banyak kemiripan dengan situasi menjelang pecahnya Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945).
Beberapa tanda yang disoroti SBY diantaranya munculnya pemimpin negara kuat yang cenderung memilih jalur perang.
Terbentuknya blok atau persekutuan negara-negara besar yang saling berhadap-hadapan dan juga perlombaan dan pembangunan kekuatan militer dalam skala masif.
“Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama dan Kedua memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah telah memberikan pelajaran berharga, namun dunia seolah kembali mengulang pola lama yang pernah membawa kehancuran besar bagi umat manusia.
Lebih lanjut, Ketua Partai Demokrat itu menyayangkan sikap sebagian negara yang dinilai tidak lagi serius dalam upaya mencegah konflik global, meski tanda-tandanya semakin jelas.
SBY menduga, sikap abai tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari ketiadaan kekuatan politik dan militer, hingga hilangnya kepedulian moral terhadap masa depan dunia.
Indikasinya kuat terlihat, tetapi banyak negara yang seperti tidak peduli,” ungkapnya.
SBY juga mengutip berbagai studi global yang menyebutkan bahwa jika perang dunia benar-benar pecah, konflik tersebut hampir pasti berkembang menjadi perang total yang melibatkan senjata nuklir. Dampaknya, kata SBY, bukan hanya kehancuran fisik, tetapi juga lenyapnya peradaban manusia.
“Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” tegasnya.
Menghadapi situasi tersebut, SBY mengaku kini hanya bisa berdoa, sembari berharap para pemimpin dunia masih memiliki nurani untuk menghentikan eskalasi konflik.
SBY mendorong PBB bertindak , dan bukan sekadar diam,ia juga secara khusus menyoroti peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berharap organisasi dunia itu dapat segera menginisiasi pertemuan para pemimpin global dengan satu agenda utama: mencegah krisis dunia berskala besar, termasuk potensi perang dunia baru. Meski mengakui posisi PBB saat ini lemah dan penuh keterbatasan, SBY menegaskan bahwa sejarah tidak boleh mencatat PBB sebagai lembaga yang memilih diam.
“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” tulisnya.
Pernyataan SBY ini menjadi peringatan keras dari seorang negarawan yang pernah memimpin Indonesia selama satu dekade dan aktif di berbagai forum internasional. Di tengah ketegangan global yang meningkat, suara SBY mencerminkan kegelisahan banyak pihak yang khawatir dunia sedang berjalan menuju titik tanpa kembali.
RED