Dugaan Investasi Bodong SnapBoost Kian Meluas, Korban Bertambah, Polisi Angkat Bicara
![]() |
| Kantor Snapboost di Jalan Mangkuprajan Kota Madiun yang kini telah habis masa kontraknya (Foto: Istimewa) |
SEMERUPOS.COM, MADIUN - Kasus dugaan investasi bodong aplikasi SnapBoost di Kota Madiun memasuki babak baru. Jumlah korban yang mulai angkat bicara terus bertambah, seiring munculnya berbagai pengakuan terkait skema investasi yang diduga merugikan masyarakat hingga miliaran rupiah.
Salah satu korban, Gaguk, mengungkapkan bahwa dirinya tergiur bergabung setelah mendapatkan informasi dari Setyo yang disebut sebagai koordinator di wilayah Madiun. Dalam penjelasannya, Setyo menawarkan skema investasi dengan iming-iming reward kendaraan bermotor.
“Informasi yang saya terima dari Setyo selaku koordinator, di Madiun itu ada 43 unit motor yang akan dijadikan reward untuk para member SnapBoost. Tentunya, untuk mendapatkan itu harus melakukan deposit,” ujar Gaguk,Selasa (21/04/2026).
Ia menjelaskan, nilai deposit yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp16 juta hingga Rp33 juta, tergantung jenis atau tipe motor yang diinginkan oleh anggota.
Tak hanya itu, Gaguk juga menyebut adanya iming-iming reward mobil dalam skema tersebut.
“Bukan hanya motor, ada juga reward mobil sebanyak 4 unit, dengan nilai deposit berkisar antara Rp80 juta hingga Rp150 juta,” tambahnya.
Sementara itu, pihak kepolisian membenarkan telah menerima laporan terkait dugaan investasi bodong tersebut. Kapolres Madiun Kota AKBP Wiwin Junianto, S.I.K., melalui Kasi Humas Ipda Aris Yunandi, S.H., menyampaikan bahwa laporan masyarakat saat ini sedang dalam tahap pendalaman.
“Iya, memang ada aduan masyarakat yang masuk ke petugas terkait dugaan investasi bodong tersebut. Saat ini, petugas masih melakukan pendalaman lebih lanjut atas laporan yang diterima,” jelasnya.
Sebelumnya, kasus SnapBoost telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kota Madiun. Sejumlah warga mengaku mengalami kerugian setelah mengikuti program investasi yang menjanjikan keuntungan serta hadiah kendaraan tersebut.
Namun, persoalan ini semakin kompleks karena muncul perbedaan sikap di antara para korban. Sebagian korban tidak menyalahkan Setyo dan menganggapnya juga sebagai korban, sementara sebagian lainnya justru menuntut Setyo untuk bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
Menurut Gaguk, posisi Setyo hanya sebagai leader di wilayah Kota Madiun, sedangkan sosok yang disebut sebagai top leader berada di Jakarta.
“Setyo ini hanya leader di Madiun, sementara top leader-nya ada di Jakarta, bernama Mira Farhani,” ungkapnya.
Hingga kini, kasus dugaan investasi bodong SnapBoost masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik, sembari menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian.
Naw
